Pembaharuan Administrasi dalam Konteks Birokrasi

Dalam konteks administrasi negara dan administrasi pembangunan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan tema tersebut adalah tema yang berkaitan dengan birokrasi. Dalam konteks dan pemahaman umum bahwa birokrasi terkadang selalu dikaitkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan prosedur penyelesaian suatu urusan dalam pemerintahan, atau seluk-beluk pengurusan sesuatu yang sangat berbelit-belit dan sebagainya. Misalnya jika seseorang ingin mendapatkan informasi tentang sesuatu maka informasi tersebut akan dikirim dari pejabat satu kepejabat lain dan jika hal tersebut tidak dipantau secara ketat bisa saja informasi yang diharapkan tersebut tidak akan di dapatkan oleh seseorang.

Birokrasi kemudian memiliki konotasi yang sangat negatif. Bahkan ada kecenderungan birokrasi dihubungkan dengan pristiwa-peristiwa kemacetan-administrasi atau tidak adanya efesiensi dan efektifitas pelayanan administrasi, khususnya administrasi pemerintahan. Padahal menurut Bintoro Cokroamidjodjo (1988) birokrasi bukan memuat hal yang terkait dengan pelayanan yang berbelit-belit, kemacetan administrasi dan tidak efesiensinya sesuatu, akan tetapi birokrasi malah dimaksudnkan sebagai suatu bentuk upaya yang dilalukan untuk dapat memeberikan pelayanan secara terorganisisr terhadap suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh seseorang.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka dalam makalah ini akan dibahas tentang pembaharuan administrasi dalam konteks  birokrasi. Hal ini tentu tepat untuk dibicarakan karena di satu sisi pelaksanaan administrasi pembangunan sebagai suatu bentuk penentuan kebijakan dan upaya mengimplemetasikan kebijkan tersebut harus dilakukan secara lebih terorganisir dan teratur agar tujuan pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya dapat dicapai. Jik aterjadi suatu perubahan dan pembaharuan adminsitrasi pembangunan sebagai akibat dari upaya pemenuhan tuntutan perubahan rencana dan strategi pembangunan, maka harus pula didukung oleh birokrasi yang memadai. Lengkapnya silahkan di download disini 

Login Required

 

Apakah Remedial Teaching itu?

Pendahuluan

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan  oleh guru jika tidak dapat meningkatkan hasil belajar siswa, atau tidak dapat memenuhi target pembelajaran yang telah ditetapkan oleh guru, maka guru dapat melakukan kegaitan remedial. Pengajaran remedial biasa dilakukan guru jika guru mengetahui bahwa terdapat beberapa siswa yang tidak mampu menguasai materi pelajaran yang telah diajarkan. Pengajran remedial tersebut dimaksudkan agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang tertinggal pada  mata pelajaran tertentu. Dengan demikian maka kegaitan remedial sesungghnya diperuntukkan bagi siswa yang memiliki masalah-masalah dalam kegaitan pembeljaran yang diikutinya.

Proses  pengajaran remedial sifatnya lebih khusus  karena disesuaikan dengan karakteristik   kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Proses bantuan lebih ditekankan pada usaha perbaikan secara belajar, cara mengajar, menyesuaikan materi pelajaran, penyembuhan hambatan-hambatan  yang dihadapi. Dengan pemgajaran remedial, siswa yang  mengalami kesulitan belajar dapat dibetulkan atau disembuhkan atau  memperbaiki dapat mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan kemampuannya.

Di samping itu , pengajaran  remedial mempunyai arti terapeutik, artinya dalam proses pengajaran remedial secara langsung atau tidak langsung  juga menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengajaran remedial adalah suatu bentuk khusus pegajaran  yang ditujukan untuk menyembuhkan atau memperbaiki sebagian atau seluruh kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa. Perbaikan diarahkan kepada pencapaian  hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing perbaikan keseluruhan proses belajar mengajar.

Pengertian Remedial Teaching

Menurut Mukhtar dan Rusmini (2001).Remedial   merupakan suatu sistem belajar  yang  dilakukan berdasarkan diaognosa yang kompherensif (menyeluruh), yang dimaksudkan  untuk menemukan kekurangan-kekurangan yang dialami siswa dalam belajar. Pandangan lain dikemukakan oleh Rahmadiarti  (2003), bahwa pengajaran remedial merupakan implementasi dan kemungkinan  mengatasi faktor penyebab kesulitan  yang dihasilkan dari diagnosis kesulitan bealajar  yang telah dilakukan sebelumnya.

Pelaksanaan remedial oleh guru dilakukan dengan terlebih dahuu mengdiagnosa siswa yang memiliki hambatan dan masalah dalam belajarnya. Suratminingsih (2005), menegaskan bahwa untuk   menentukan siswa yang akan  megikuti pengajaran remedial dipilih berdasarkan hasil tes diagnostik. Karena tes diagnostik dipakai untuk   mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa, termasuk dalam hal kesalahan dalam pemahaman konsep. Diagnosa kesulitan belajar mengajar  ini adalah segala usaha yang dilakukan untuk memahami  dan menetapkan jenis sifat kesulitan belajar, faktor-faktor yang menyebabkannya serta cara menetapkan kemungkinan-kemungkinan mengatasinya.  Baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi  yang subyektif dan selengkap mungkin.

Tujuan Remedial Teaching

Secara umum, tujuan pengajaran remedial tidaklah  berbeda dengan pengajaran biasa yaitu agar siswa dapat mencapai prestasi belajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Secara khusus pengajaran remedial bertujuan untuk memberikan bantuan yang berupa perlakuan pengajaran kepada siswa yang lambat, kesulitan, belajar, ataupun gagal dalam belajar, sehingga dapat secara tuntas dalam menguasai bahan atau materi pelajaran yang diberikan dan dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui proses perbaikan.

Secara rinci, tujuan pengajaran remedial :

  1. Agar siswa dapat memahami dirinya, khusus prestasi belajar mengajarnya, dapat mengenal kelemahan dalam mempelajari suatu bidang studi dan perbuatanya.
  2. Agar siswa dapat memperbaiki atau mengubah cara belajar kearah yang lebih baik.
  3. Agar siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.
  4. Agar siswa dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik.
  5. Agar siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang dapat diberikan kepadanya. Setelah ia mampu mengatasi hambatan-hambatan yang menjadi penyebab kesulitan belajarnya, dan dapat mengembangkan serta sikap yang baru dalam belajar.

Fungsi Remedial Teaching

Pengajaran remedial mempunyai fungsi penting dalam  keseluruhan proses belajar mengajar seperti yang dikemukakan oleh Mukhtar dan Rusmini (2001), bahwa pengajaran remedial mempunyai fungsi korektif, pemahaman, penyesuaian, pengayaan, dan terapeutik.

  1. Fungsi korektif pengajaran remedial berarti bahwa melalui pengajaran remedial dapat dilakukan pembetulan atau perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapakan dalam keseluruhan proses pembelajaran, antara lain mencakup perumusan tujuan, penggunaan metode, cara-cara belajar, materi dan alat pelajaran, evaluasi dan sebagainya.
  2. Fungsi pemahaman diartikan dapat pengajaran remedial memungkinkan guru, siswa atau pihak-pihak lainnya akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan kompherensif mengenai pribadi siswa.
  3. Fungsi penyesuaian berarti pengajaran remedial dapat membentuk siswa untuk bisa beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya (proses belajarnya). Artinya, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil yang lebih baik semakin besar. Hal ini tentunya harus disesuaikan dengan sifat, jenis dan latar belakang kesulitannya, sehingga diharapkan siswa lebih terdorong lebih belajar.
  4. Fungsi pengayaan berarti bahwa pengajaran remedial akan dapat memperkaya proses pembelajaran, sehingga materi yang tidak disampaikan dalam pengajaran reguler akan dapat diperoleh melalui pengajaran remedial. Demikian juga dari segi metode dan alat yang digunakan, sehingga hasil yang diperoleh siswa diharapkan menjadi lebih banyak, lebih dalam, atau singkatnya prestasi belajar lebih kaya.
  5. Fungsi akselerasi berarti bahwa pengajaran remedial akan dapat diperoleh dari hasil belajar yang baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efesien. Dengan kata lain, dapat mempercerpat proses pembelajaran baik dari segi waktu maupun materi.

 

Manusia Menurut Agama Islam

Manusia Menurut Agama Islam[1]

Al-Qur’an tidak menggolongkan manusia ke dalam kelompok hewan selama manusia mempergunakan akal dan karunia Tuhan lainnya. Namun bila manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Tuhan yang sangat tinggi nilainya seperti: pemikiran, kalbu, jiwa, raga, serta pancaindera secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi hewan:

“… Mereka (manusia) punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), punya telinga tetapi tidak mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan bahkan lebih rendah (lagi) dari binatang.” (QS 7:179)

Di dalam Al-Qur’an manusia disebut antara lain dengan al-insan (QS 76:1), an-nas (QS 114:1), basyar (QS 18:110), bani adam (QS 17:70). Berdasarkan studi isi Al-Qur’an dan Al-Hadits, manusia (al-insan) adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman kepada Allah dan dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, mempunyai rsa tanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak (N.A. Rasyid, 1983: 19). Berdasarkan rumusan tersebut, manusia mempunyai berbagai ciri sebagai berikut:

  1. Makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang sangat baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS 95:4)

  1. Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan) beriman kepada Allah.

“… ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ ” (QS 7:172)

  1. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS 51:56)

  1. Manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi khalifahnya di bumi.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesunggunya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ … ” (QS 2:30)

  1. Manusia dilengkapi akal, perasaan, dan kemauan atau kehendak.

“Dan katakanlah: ‘kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ …” (QS 18:29}

  1. Manusia secara individual bertanggung jawab atas segala perbuatannya.

“… Setiap orang (manusia) terikat (bertanggung jawab) terhadap apa yang dilakukannya.” (QS 52:21)

Manusia menurut agama Islam, terdiri dari dua unsur, yaitu unsur materi berupa tubuh yang berasal dari tanah dan unsur immateri berupa roh yang berasal dari alam gaib. Al-Qur’an mengungkapkan proses penciptaan manusia:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal dari) tanah [12]. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) [13]. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik [14]. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah [7]. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani) [8]. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi Kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur [9].” (QS 23:12-14, 32:7-9)

Sedangkan menurut hadits, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya, setiap manusia dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nuthfah (air mani), empat puluh hari sebagai ‘alaqah (segumpal darah), selama itu pula sebagai mudhghah (segumpal daging). Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalam tubuh manusia, yang berada dalam rahim itu” (HR Bukhari dan Muslim)

Ali Syari’ati – sejarawan dan ahli sosiologi Islam terkemuka – mengemukakan pendapatnya mengenai intrepretasi hakikat kejadian manusia. Manusia menpunyai dua dimensi: dimensi ketuhanan (kecendrungan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah) dan dimensi kerendahan atau kehinaan (lumpur mencerminkan keburukan-kehinaan). Karena itulah manusia dapat mencapai derajat yang tinggi namun dapat pula terperosok dalam lembah yang hina, yang manusia dibebaskan untuk memilihnya.

Ali Syari’ati memberikan makna tentang filsafat manusia:

  1. Manusia tidaklah sama (konsep hukum), tetapi bersaudara (asal kejadian).
  2. Manusia mempunyai persamaan antara pria dan wanita (sumber yang sama yakni dari Tuhan).
  3. Manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari malaikat karena pengetahuan yang dimilikinya.
  4. Manusia memiliki fenomena dualistis: terdiri dari tanah dan roh Tuhan, yang terdapat kebebasan pada dirinya untuk memilih.

Atas kebebasan memilih tersebut, manusia bergerak dalam spektrum yang mengarah ke jalan Tuhan atau sebaliknya mengarah ke jalan setan. Manusia dengan akalnya sebagai suatu hidayah Allah kepada-Nya , memilih apakah ia akan terbenam dalam lumpur kehinaan atau menuju ke kutub mulia ke arah Tuhan. Dalam menentukan pilihan manusia memerlukan petunjuk yang benar yang terdapat dalam agama Allah yaitu agama Islam, yang menyeimbangkan antara dunia dan akherat.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam …” (QS 3:19)

Manusia sebagai makhluk Ilahi hidup dan kehidupannya berjalan melalui lima tahap: (1) alam gaib, (2) alam rahim, (3) alam dunia, (4) alam barzakh, dan (5) alam akherat. Dari kelima tahapan kehidupan manusia itu, tahap kehidupan di dunia merupakan tahap yang menentukan tahap kehidupan selanjutnya, sehingga manusia dikaruniai Allah dengan berbagai alat perlengkapan dan bekal agar dapat menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi, serta pedoman agar selamat sejahtera di dunia dalam perjalanannya menuju tempatnya yang kekal di akherat nanti. Pedoman itu adalah agama.

Sesunguhnya manusia diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Apa arti ibadah? Apakah secara ritual menyembah Allah, shalat lima waktu, puasa, zakat, dan berhaji saja? Bila memang itu maknanya, lalu bagaimana dengan usaha mempertahankan hidup? Apakah hanya dengan shalat maka hidangan akan disediakan Allah begitu saja? Tentu tidak, kita sebagai manusia harus berusaha memperoleh makan dan minum. Sebagai manusia kita harus bekerja untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup. Bila ibadah hanya diartikan sebatas pada ibadah ritual belaka dan tidak memasukkan bekerja sebagai suatu ibadah pula, maka merugilah manusia karena hanya sedikit dari waktunya untuk beribadah, bila dibandingkan ibadah dalam artian luas yang tidak terbatas pada ibadah ritual belaka. Tujuan ibadah:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa.” (QS 2:21)

Prof.DR. M. Mutawwali As-Sya’rani mengutarakan bahwa: manusia diberi sarana oleh-Nya, diberi bumi yang tunggal dan beribadah pada-Nya, Alah telah memberi kewajiban-kewajiban, karenanya Allah meminta hak agar manusia beribadah kepada-Nya dengan tujuan agar manusia dapat terhindar dari soal-soal buruk yang merugikan di dunia.



[1] Muhamad Shiroth, Imam Hartojo, dan Reza Nursadewo Fakultas Ekonomi Universitas ndonesia, Depok, 1999