Bahasa Daerah Sebagai Bahasa Pengantar Pendidikan
Berdasarkan Pengertian Pendidikan sebagai upaya untuk seperti pengembangan potensi-potensi yang diberikan Tuhan kepada manusia,: pengembangan pikiran, penataan perilaku, pengaturan emosional, pengaturan hubungan manusia dengan Tuhannya serta hubungan dengan alam ini, maka arah dan tujuan pendidikan adalah agar manusia mampu mengolah dan memanfaatkan potensi-potensi tersebut dengan baik, sehingga dapat meraih kemenangan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Mencari, m endalami, dan mengembangkan ilmu adalah ibadah. Dengan demikian, ilmu pengetahuan urgen dimiliki dan diamalkan oleh manusia dalam kehidupannya. Pendidikan adalah  proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Depdikbud, 1999 : 232). Pengertian pendidikan yang lain adalah merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan pembangunan nasional, sehingga memiliki posisi strategis dalam segala aspek pembangunan bangsa, khususnya pada upaya pegembangan sumber daya manusia. Pengembangan sumber daya manusia dilakukan untuk mewujudkan manusia yang berbudi luhur, cerdas, terampil, produktif, kreatif, inovatof, dan beriorentasi masa depan. Dari pengertian pendidikan tersebut dipahami bahwa prosesnya adalah untuk mencapai tujuan sehingga seluruh faktor yang berpengaruh perlu mendapat perhatian serius termasuk bahasa pengantar yang digunakan. Penggunanaan Bahasa Daerah sebagai Bahasa Pengantar Pendidikan juga diperbolehkan menurut UUSPN No. 20 Tahun 2003.

Rasionalisasi penggunaan Bahasa Daerah sebagai Bahasa Pengantar Pendidikan
Dikaitkan dengan era globalisasi dan informasi, perubahan-perubahan yang dibawa oleh semangat globalisasi dan arus informasi akan lebih deras lagi menggoncang masyarakat dan sekolah, kampus dan tatanan kehidupan dalam segenap seginya. Akibat yang akan timbul ialah semakin banyaknya individu, anak-anak dan remaja peserta didik di sekolah, para pemuda serta warga masyarakat lainnya yang dihimpit oleh berbagai tantangan dan ketidakpastian, terlempar dan terhempas oleh berbagai harapan dan keinginan yang tidak dapat terpenuhi.  alam hal ini, dirasakan bahwa sekolah terlebih-lebih lagi menanggung perubahan besar tersebut. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di lingkungan pendidikan formal diharapkan menjadi suatu proses interaksi antara guru dan peserta didik. Dalam proses tersebut, terjalin proses komunikasi edukatif antara guru dan siswa yang berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari. Dalam proses komunikasi tersebut kualitas informasi yang disampaikan sangat tergantung pada keterampilan berbahasa secara optimal sehingga tujuan komunikasi dapat dicapai. Olehnya itu penggunaan Bahasa Daerah sebagai Bahasa Pengantar Pendidikan menjadi salah satu jaminan untuk melakukan kounikasi edukatif dalam pembelajaran.
Proses komunikasi yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran secara sederhana terdiri dari pesan atau encoding yang dikirim oleh pengirim pesan kepada penerima pesan dalam bentuk decoding. Pesan tersebut diterima oleh penerima pesan melalui transmisi tertentu. Demikian halnya dalam kegiatan pembelajaran pengirim pesan adalah guru yang memberikan informasi mengenai materi pelajaran kepada siswa sebagai penerima pesan. Pesan yang dikirimkan tersebut dalam bentuk lambang bunyi/tulisan (Mulyati, 2007). Dengan demikian maka kualitas pesan yang dapat diterima oleh penerima sangat tergantung pada proses komunikasi tersebut, yang berarti bahwa dalam menyampaikan informasi dituntut kemampuan guru untuk memiliki keterampilan berbahasa sehingga materi yang disampaikan oleh guru dapat diterima dengan baik oleh siswa. Jika alasan tersebut yang mendasari efektifnya suatu bnetuk komunikasi, maka pada daerah tertentu yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa daerah, maka perlu guru menggunakan Bahasa Daerah sebagai Bahasa Pengantar Pendidikan.
Mesikupun demikian dalam proses pengajaran bahasaIndonesia sekalipun penggunaan Bahasa Daerah sebagai Bahasa Pengantar Pendidikan tetap dapat digunakan. Pengajaran Bahasa sendiri yang dimaksudkan adalah aktivitas memenuhi kondisi dan kebutuhan siswa dalam upaya membelajarkannya, supaya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai terhadap bahasa yang diajarkan. Dalam aktivitas tersebut, Jasir Burhan (dalam Ide Said, 1990:37) mengemukakan bahwa, terdapat tiga faktor paling penting seseorang untuk dapat melakukan tugasnya sebagai guru/pengajar yang baik, yaitu: penguasaan materi yang akan disajikan/diajarkan., penguasaan metode yang dipilih dan yang dipakai, pengetahuan tentang tujuan yang hendak dicapai.
Disamping rasionalisasi tersebut di atas, maka dalam aturan perundang-undangan juga diatur tentang boleh tidaknya menggunakan Bahasa Daerah sebagai Bahasa Pengantar Pendidikan. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2003 bab VII Pasal 33 telah ditegaskan bahwa Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional. Hal tersebut berarti bahwa pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran atau kegiatan komunikasi antara guru dengan siswa bahasa penganatar yang diguakan adalah bahasa Indonesia.

Keuntungan penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pendidikan
Jika dalam kegiatan pembelajaran guru dalam mengkomunikasikan pesan atau materi pelajaran menggunakan  bahasa Indonesia sementara siswa tidak memahami bahasa yang digunakan guru, maka praktis tujuan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tidak akan tercapai secara optimal. Oleh karena itu, maka kebijakan kurikulum Sekolah Dasar untuk murid-murid kelas I sampai dengan kelas III boleh menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar, untuk kelas IV sampai dengan kelas VI diutamakan memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Selain itu, juga dapatmenajdi sarana untuk melakukan proses krisalisasi dan penanaman nilai dan budaya serta karakter masing-masing melalaui bahasa. Hal ini juga dapat dimasukkan dalam muatan lokal setiap sekolah. Penggunaan ini dapat mengangkat dan menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi potensi daerah masing-masing. Misalnya mengajarkan siswa mata pelajaran Bahasa Daerah disamping penggunaanya sebagai bahasa pengantar. Melalui pengajaran Bahasa daerah ini siswa dapat diajarkan bebahasa daerah yang baik dan benar, mengajarkan petuan atau semboyan-semboyan daerah masing-masing. Untuk mengukurnya dapat digunakan dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa daerah dan bahasa Indonesia seperti menanyakan arti atau makna dari beberapa semboyan seperti arti kata Butta Salewangang, arti kata Peddi, Magguru, dan sebagainya.

Tags: , , , , , ,