filsafatPembicaraan tentang filsafat menjadi menarik karena perbincangan tersebut tidak pernah dilepaskan dari suatu proses untuk menemukan kebenaran. Meskipun pada tataran tertentu kebenaran yang ditemukan bersifat relatif. Kebenaran yang ditemukan oleh rangkaian proses berfilsafat ini meski tidak menghasilkan kebenaran absolut akan tetapi sudah dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kaitan ini yang menarik sesungguhnya adalah bahwa dalam kegiatan berfilsafat, pelibatan akal sangat dominan. Dalam artian bahwa seseorang yang melakukan proses berfikir sesungguhnya secara sederhana dapat dikategorikan berfilsafat.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka materi kajian yang paling menarik sesungguhnya adalah materi kajian yang berkaitan dengan penggunaan akal pikiran secara sistimatis dan runtut sehingga menemukan suatu kebenaran. Di sini penggunaan daya pikir sangat dominan dalam mengeksploirasi objek-objek dan fenomena alam sekitar untuk kemudian menjadi bahan pemikiran untuk membuktikan kebenaran dari objek atau fenomena tersebut. Disamping itu tentu hal ini sangat berkaitan dengan topik kuliah yaitu pembahsan tentang aliran Filsafat yaitu aliran Rasionalisme. Aliran Rasionalisme secara nyata mengedepankan dominasi akal dalam mengungkap rahasia kebenaran dari suatu obyek atau fenomena.

Rasionalisme dalam prosesnya senantiasa menganggap bahwa sumber segala pengetahuan adalah melalui rasio. Penggunaan rasio yang tepat akan menghasilkan pengetahuan empiris. Hal ini ditegaskan oleh Muntansyir dan Munir bahwa sumber pengetahuan yang memadai dan meyakinkan adalah Rasio[1]. Dengan demikian penggunaan Rasio (akal) menjadi satu-satunya alat utama untuk menemukan kebenaran atau menciptakan pengetahuan.

Berkaitan dengan hal tersebut menjadi menarik untuk dikaji lebih jauh bagaimana seseorang dengan potensi akalnya dapat menemukan sebuah kebenaran atau pengetahuan jika ditinjau dari aliran atau mazhab Rasionalisme dalam filsafat. Pernyataan tersebut sesungguhnya dapat diterjemahkan sederhana bahwa sesuatu dianggap benar jika dapat diterima oleh rasio. Sementara dalam kehidupan sehari-hari banyak hal atau fenomena yang menjadi benar meskipun tidak dapat diterima oleh rasio. Sebutlah dalam dogma agama, tidak secara keseluruhan dapat dibuktikan kebenarannya dengan rasio. Dalam konteks agama, usaha untuk meyakinkan seseorang tidak harus menggunakan Akal atau rasio untuk menerima kebenarannya. Bisa jadi kebenaran itu diterima melalui proses dogmatis. Sebagai contoh dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, jika seorang guru menjelaskan atau menguraikan tentang Rukun Iman, maka pendekatan yang digunakan tidak selalau dengan pendekatan rasionalisme, tetapi dengan pendekatan dogmatis.

Oleh karena itu menjadi menarik untuk mengkaji hal yang berkaitan dengan kriteria kebenaran menurut aliran Rasionalisme dalam filsafat sehingga akan ditemukan titik temu antara kebenaran dalam pandangan Rasionalisme dengan kebenaran dalam pandangan Agama.



[1] Rizal Muntansyir M.Hum dan Misnal Munir, M.Hum, Filsafat Ilmu, Cet. II, Pustaka Pelajar. Yogyakarta, 2002, hal. 74

Tags: , , ,