Pengertian Strategi Mengajar Kelompok | Tahapan Mengajar Kelompok

Secara harfiah, kata “strategi” menurut McLeod, (1989) (dalam  Dimyati dan Mudjiono, 2006) dapat diartikan sebagai seni (art) melaksanakan strategi yakni siasat atau rencana. Banyak padanan kata “strategi” dalam bahasa Inggris, dan yang dianggap relevan dengan pembahasan  ini ialah kata approach (pendekatan) dan kata procedure (tahapan kegiatan). Dalam perspektif psikologi, kata strategi menurut Reber, (1988) (dalam  Dimyati dan Mudjiono, 2006)  berasal dari bahasa Yunani itu, berarti rencana tindakan yang terdiri atas seperangkat langkah untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan. Seorang pakar psikologi pendidikan Australia, Michael J. Lawson (1991) (dalam  Dimyati dan Mudjiono, 2006) mengartikan strategi sebagai prosedur mental yang berbentuk tatanan langkah yang menggunakan upaya ranah cipta untuk mencapai tujuan tertentu.

Selanjutnya, berdasarkan pertimbangan arti-arti tersebut di atas, maka strategi mengajar (teaching strategy) dapat penyusun definisikan sebagai sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Sebuah strategi mengajar dapat  berlaku umum bagi semua guru bidang studi selama orientasi sasarannya sama. Sebagai contoh, untuk mencapai tujuan  pengajaran tertentu. Sebuah strategi mengajar dapat berlaku umum bagi semua guru bidang studi selama orientasi sasarannya sama. Sebagai contoh, untuk memperoleh perhatian siswa yang sedang mengikuti uraian pelajaran secara lisan (metode ceramah) guru dapat melakukan peragaan. Lalu peragaan ini diikuti oleh siswa laki-laki, kemudian oleh siswa perempuan. Alternatif strategi lainnya pun dapat diambil guru, misalnya dengan penyajian kisah-kisah dramatis sebagai selingan ceramahnya.

Dibandingkan dengan metode pengajar, strategi mengajar sebenarnya masih relatif baru dalam dunia pengajaran. Ia baru mulai mengajarkan kecakapan berpikir untuk anak-anak (Tafsir , 1989). Strategi mengajar, seperti yang telah penyusun singgung sebelum ini, tidak terlepas dari metode pengajar, karena merupakan kiat praktis yang dipakai guru untuk mengajarkan materi pelajaran tertentu dengan metode mengajar tertentu pula seperti metode ceramah, metode ceramah plus, dan sebagainya.

Dibandingkan dengan metode pengajar, strategi mengajar sebenarnya masih relatif baru dalam dunia pengajaran. Ia baru mulai mengajarkan kecakapan berpikir untuk anak-anak (Tafsir , 1989). Strategi mengajar, seperti yang telah penyusun singgung sebelum ini, tidak terlepas dari metode pengajar, karena merupakan kiat praktis yang dipakai guru untuk mengajarkan materi pelajaran tertentu dengan metode mengajar tertentu pula seperti metode ceramah, metode ceramah plus, dan sebagainya.

Tahapan-tahapan mengajar dalam kelompok

Tahapan-tahapan dalam proses mengajar siswa dalam kelompok memiliki hubungan erat dengan penggunaan strategi mengajar. Maksudnya ialah bahwa setiap penggunaan strategi mengajar harus selalu merupakan rangkaian yang utuh dalam tahapan-tahapan mengajar.

Menurut Suwarna dkk. (2005) pembelajaran kelompok perlu memperhatikan beberapa komponen di ataranya adalah:

  1. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan  pembelajaran kelompok dengan mendiagnosis kemampuan akademik siswa, gaya belajar siswa, kecenderungan minat dan kedisiplinan siswa.
  2. Keterampilan mengorganisasikan kegiatan  belajar kelompok  karena guru bertindak sebagai organisatoris dengan mengatur dan memonitoring aktivitas belajar siswa.
  3. Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar bagi siswa dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat belajar sendiri sehingga guru harus mampu dan terampil membantu siswa untuk mudah belajar.

Menurut Suwarna dkk. (2005) beberapa ciri penmbelajaran dengan pendekatan kelompok adalah (1) siswa memiliki keanggotaan jelas, (2) terdapat kesadaran kelompok, (3) memiliki tujuan bersama, (4) salaing tergantung dan memiliki kebutuhan yang sama, (5) ada interaksi dan komunikasi antar anggota, serta (6) ada tindakan yang dilakukansecara bersama-sama. Keenam ciri tersebut menjadi ciri kelompok yang kohesif dan dapat menjadi jaminan keberhasilan kelompok dalam mencapai tujuan pembelajaran  yang telah ditetapkan oleh guru.

Agar sebuah kelompok dapat memenuhi star tersebut di atas, maka Mansur (2004), mengemukakan beberapa pedoman dalam membentuk kelompok di ataranya adalah bahwa dalam pembentukan kelompok siswa terdiri dari 5-7 orang dalam 1 kelompok serta didasarkan pada minat dan kecenderunganmasing-masing siswa. Kedua aspek tersebut harus menjadi pertimbangan guru dalam membentuk kelompok belajar bagi siswa agar guru dapat dengan mudah membina dan mengembangkan belajar kelompok dalam pembelajaran yang dilaksanakannya.

Suwarna dkk. (2005) mengemukakan beberapa model dan langkah-langkah pembinaan dan pengembangan belajar kelompok dalam kelas di ataranya adalah pada tahap pelaksanaan diawali dengan pertemuan klasikal untuk memeberi informasi umum kepada siswa, kemudian guru mempersilahkanmasing-masing kelompok untuk melaksanakan tugas masing-masing, kemudian guru melakukan evaluai dan supervisi untuk mengikuti proses perkembangan pembelajaran dalam kelompok.

Secara umum tahapan pengajaran dengan pendekatan kelopok melalui tiga tahapan :

Tahap  prainstruksional, yaitu persiapan sebelum mengajar dimulai.

Tahap prainstruksional adalah langkah persiapan yang ditempuh guru pada saat mulai memasuki kelas hendak mengajar. Pada tahap ini guru dianjurkan memeriksa kehadiran siswa, kondisi kelas, dan kondisi peralatan yang tersedia dengan alokasi waktu yang singkat. Sesuai kegiatan yang singkat tadi, guru perlu melakukan “pemanasan” dengan menanyakan perihal materi yang disajikan sebelumnya, serta materi yang akan diajarkan (pre-test). Kemudian, guru melakukan kegiatan apersepsi (apperception) dengan mengungkapkan kembali  secara sekilas materi yang diajarkan sebelumnya lalu menghubungkan dengan materi pelajaran yang akan segera diajarkan. Kegiatan ini penting, sebab kegiatan belajar dan memahami materi pelajaran itu kebanyakannya bergantung pada pengenalan siswa terhadap hubungan antar pengetahuan yang telah ia miliki dengan pengetahuan yang akan diajarkan.

Tahap instsruksional, yaitu saat-saat mengajar;

Tahap instsruksional adalah tahap inti dalam proses pengajaran. Pada tahap ini guru menyajikan materi pelajaran (pokok bahasan) yang disusun lengkap dengan persiapan model, metode dan strategi mengajar yang dianggap cocok. Jika guru menggunakan metode ceramah atau metode ceramah plus, maka pada tahap pelaksanaan pengajaran ini, ia sangat dianjurkan menjelaskan pokok-pokok materi dan tujuan-tujuannya baik kompotensi dasar, standar kompotensi dan indikator yang harus dicapai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sebelum menguraikan pokok-pokok materi tersebut lebih lanjut, setiap uraian seyogyanya dilengkapi dengan contoh dan peragaan seperlunya.

Terakhir, guru hendaknya membuat kesimpulan mengenai uraian yang telah disampaikan, jika memungkinkan penulisan kesimpulan ada baiknya dilakukan oleh para siswa. Dalam hal ini, guru perlu memberi waktu yang cukup kepada para siswa untuk bekerja sama menyelesaikan penyusunan kesimpulan-kesimpulan tersebut.

Tahap evaluasi dan tindak lanjut, yaitu penilaian atas hasil belajar siswa setelah mengikuti pengajaran dan penindaklanjutannya.

Tahap terakhir proses mengajar terdiri atas kegiatan evaluasi dan tindak lanjut (follow up). Pada tahap ini guru melakukan penilaian keberhasilan belajar siswa yang berlangsung pada tahap  instruksional. Caranya, ialah dengan mengadakan Post Test. Post  Test merupakan alat pengukuran prestasi belajar  siswa sesudah menyajikan materi pelajaran. Tujuannya ialah untuk mengetahui seberapa banyak siswa menguasai materi pelajaran yang telah disajikan guru. Post test sebaiknya dihubungkan/dibandingkan dengan pres test untuk mengetahui perbedaan kualitas dan kuantitas pengetahuan siswa sebelum dan sesudah mengikut pelajaran. Kalau proses belajar mengajar (PBM) yang baru usia itu baik, maka akan tampak mencolok (positif) perbedaan antara skor hasil post test dengan skor hasil pre test.

Kadar hasil pembelajaran (proses mempelajari sesuatu) siswa dapat digunakan sebagai pedoman penindaklanjutan, baik yang bersifat pengayaan maupun perbaikan. Hal ini tergantung pada kualitas hasil post test tadi. Penindaklanjutan (follow up) dalam pengajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara, umpamanya : diskusi kelompok informal, penyusunan ikhtisar, pemberian pekerjaan rumah (seperti membuat kliping dan menulis esei).

Akhirnya, sebelum meninggalkan kelas, guru dianjurkan untuk memberitahukan pokok bahasan yang akan diajarkan kepada siswa pada pertemuan berikutnya. Langkah ini  yang sangat sering dilupakan para guru itu  cukup penting artinya bagi para siswa dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi materi baru dengan cara membaca sumber yang ada di rumah atau di perpustakaan.

 

 

 

Tags: , , , , , ,